The Talented Miss Ria
Categories: the show

Miss Ria

Tanpa terasa, sudah 30 tahun lebih Ria Irawan mengisi dunia seni Indonesia dengan bakat dan karyanya. Ria bahkan pernah menyatakan, hanya bakat yang akan setia menemaninya sampai mati. Meskipun jarang mendapatkan peran utama, namun totalitas dalam berakting membuat Ria selalu mencuri perhatian dalam film-film yang dia bintangi. Bagi Ria, tidak masalah hanya menjadi orang kedua, asal banyak dibicarakan. Jalan hidup wanita serbabisa ini pun menyimpan banyak cerita seru yang sayang untuk dilewatkan. Kepada Just Alvin, Ria berbagi cerita tentang karir, keluarga, hingga kisah cintanya.

Categories: the show - Tags: ,

2 Comments to “The Talented Miss Ria”

  1. Wiks, keren banget episode semalem. Salah satu aktis yang gue suka banget ya ria irawan. Personality-nya oke, kalo ngomong gak ada rem-nya dan luar biasa fun!Great… eh kapan-kapan undang Bang JOko Anwar dong, Mas Alvin… Sukses ya…

  2. ricky gunawan says:

    pernyataan Ria yg sangat2 mengganggu aku, waktu Alvin menanyakan tentang kesan di film Selamat Tinggal Jeanete, dengan bangganya Ria menjawab:
    “Saya bangga bisa masuk nominasi dan menang, dan yang paling membanggakan bisa mengalahkan Meriam Bellina”
    Kalau menurut pernyataan Ria itu salah besar, alasannya:

    1. di kasus ini jelas Mer ga bisa disamakan dengan Ria, jelas saja Ria jauh dibawah kelas Mer, Ria hanya sebagai Pemeran Pembantu, beda dengan Mer yang pemeran utama, dan mereka tidak dalam kondisi dinominasikan dalam katagori yang sama (meskipun dalam satu film yang sama)
    2. Sebagai contoh,dalam sejarah perfilman, Christine Hakim yang langganan piala Citra, di tahun 1984 Christine (fim Ponirah Terpidana) pernah dikalahkan oleh Meriam Bellina dalam film Cinta Dibalik Noda dalam katagori pemeran utama wanita terbaik, ini baru namanya bisa disebut “mengalahkan”
    3. Contoh lain adalah Lydia Kandau yang dua kali sama2 dinominasikan di FFI ’84 dan FFI ’90 di katagori pemeran utama wanita terbaik, tapi 2 FFI tsb harus kalah oleh seorang Mer, tapi kemudian setahun kemudian, Mer dan Lydia main satu film buah karya alm. Nya Abas Akup, Boneka dari Indiana, di film ini Lydia masuk nominasi di FFI’91 dan menang sebagai pemeran utama wanita terbaik, tapi itu tetap tidak bisa membuat suatu kebanggaan buat Lydia yang sudah kalah telak 2-0 di FFI ’84 dan ’90, padahal di film Boneka dari Indiana Mer dan Lydia main bareng dan dalam status pemeran utama. Mungkin dewan juri FFI ga memasukan Mer menjadi nominasi di FFI’91 karena karakter di peran itu bukan peran yang menantang, jadi Mer ga masuk di nominasi. jadi disini peran karakter yg menentukan, coba kalau di tahun tersebut Mer main di film yang karakternya menantang, pasti Mer bisa mengalahkan Lydia untuk ketiga kalinya.

    Jadi kesimpulannya Ria salah besar dalam hal ini.

Leave a Reply